"(MATA) PENA (SERINGKALI) LEBIH TAJAM DARIPADA (MATA) PEDANG" NAPOLEON BONAPARTE.

Jumat, 12 September 2014

TOKOH JURNALISTIK ADINEGORO




Wartawan terkemuka dan novelis yang lahir di Talawi, kota kecil di Sumatra Barat pada tanggal 14 Agustus 1904 dan meninggal 7 Januari 1967 dalam usia 63 tahun. Adinegoro merupakan nama samaran dari Djamaludin yang bergelar Datuk Maharadja Sutan. Sejak tahun 1931 ia berturut-turut menjadi pimpinan surat kabar Panji Poestoko, Perwarta Deli dan Sumatera Shimbun sampai saat Jepang menyerah. Tahun 1945 Adinegoro diangkat menjadi pimpinan Yayasan Pers Biro Indonesia (PIA) dan tahun 1948 ikut mendirikan Mimbar Indonesia bersama Profesor Soepomo, Gusti Mansjur S.A. Terakhir tahun 1962 menjadi anggota Dewan Pengurus LKBN Antara. Ia berturut-turut menjadi pimpinan surat kabar Panji Poestoko, Perwarta Deli dan Sumatera Shimbun sampai saat Jepang menyerah. Tahun 1945 Adinegoro diangkat menjadi pimpinan Yayasan Pers Biro Indonesia (PIA) dan tahun 1948 ikut mendirikan Mimbar Indonesia bersama Profesor Soepomo, Gusti Mansjur S.A. Terakhir tahun 1962 menjadi anggota Dewan Pengurus LKBN Antara.

Sebelum memulai karier di bidang sastra ia menempuh pendidikan di sekolah kedokteran STOVIA, tetapi karena kegemarannya yang kuat untuk menulis, ia kemudian beralih ke bidang jurnalistik yang mulai dirintisnya sejak tahun 1922. Ia kemudian memperdalam ilmu jurnalistiknya di Munchenwuzaburg dari tahun 1926 hingga tahun 1930. Kemudian mempraktikkan jurnalistik di Utrecht. Sebagai penghargaan terhadap pengabdianya pada dunia pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengabadikan nama Adinegoro pada hadiah jurnalistik tertinggi, yang diberikan pada orang-orang yang menjadi juara lomba karya tulis yang diadakan PWI Jaya setiap tahun dengan nama Hadiah Adinegoro. Karya Adinegoro lainnya adalah Kamus Kemajuan, Melawat ke Barat, Perang Dunia I, Tiongkok Pusaran Asia, Revolusi dan Kebudayaan, Filsafat Ratu Dunia, Atlas Tanah Air, Ilmu Jiwa Seseorang.

Sumber: http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/48/Adinegoro

Jumat, 13 Desember 2013

Kutipan Novel 5cm. Karya Donny Dhirgantoro





 Kutipan Novel 5cm. Karya Donny Dhirgantoro
MCClelland  “Manusia mempunyai tiga kebutuhan yang akan memotivasinya dalam melakukan sesuatu. Ketiga kebutuhan itu adalah Need of Achievement (N-ACH), Need of Affilition (N-AFF), Needs of  Power (N-POW). Orang-orang N-ACH adalah mereka yang mengutamakan prestasi dalam memenuhi kebutuhannya. Orang-orang N-POW adalah mereka yang senang jika mempunyai kekuasaan atas segala sesuatu, sedangkan orang-orang N-AFF adalah mereka yang merasa cukup bila sudah mempunyai banyak hubungan dengan orang lain” (5cm, hal.7-8).

Riani “Ini semua bukan tentang selera, tentang musik, tentang bola atau apapun. Itu semua kecil banget dibanding kalau kita menjadi orang yang membuat orang lain bisa bernafas lebih lega karena keberadaan kita di situ” (5cm, hal.51).

Arial “Semuanya akan indah kalo lo tetep jadi diri lo sendiri, bukan orang lain” (5cm, hal.51).

Zafran “Orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu” (Socrates, 5cm, hal.159).

Arial “Kalau hati kita bersih dan melakukan hal yang baik, kita akan bahagia” (5cm, hal.162).

Zafran “Aku berpikir maka aku ada” (5cm, hal.162).

Zafran “Pencuri, perampok dan orang jahat ngerasa dalam hatinya kalo yang dia lakuin itu salah” (5cm, hal.162).

Ian “Orang yang bener-bener hidup untuk kebaikan memang hidupnya akan selalu dikenang oleh orang lain” (5cm, hal.163).

Riani “Apapun itu, cobaan, kekalahan, kegagalan, tidak akan menjadi sesuatu yang buruk. Tapi, tergantung bagaimana kita bersikap, tergantung bagaimana kita menyikapinya” (5cm, hal.265).

Genta “Kehidupan adalah 10% yang terjadi pada dirimu dan 90% sisanya adalah bagaimana kamu menghadapinya” (5cm, hal.265).

Arial “Tuhan telah memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih akan bersikap negative atau positif terhadap suatu keadaan” (5cm, hal.265).

Ian “Manusia internal adalah manusia yang beranggapan bahwa dirinyalah yang mengatur keadaan, bukan dirinya yang diatur keadaan” (5cm, hal.264).

Riani “kita harus jadi kalimat aktif selalu pakai awalan me- bukan kalimat pasif dengan awalan di-” (5cm, hal.264).

Zafran “sesuatu yang pasti didunia ini adalah ketidakpastian” (5cm, hal.270).

Zafran “Dan Tuhan memelihara ketidakpastian itu pada seluruh umat manusia agar manusia terus belajar, terus bermimpi dan ujung-ujungnya kita akan kembali pada-Nya” (5cm, hal. 270).

“Manusia yang nggak percaya sama Tuhan sama saja dengan manusia yang nggak punya mimpi. Cuma seonggok daging yang punya nama” (5cm, hal.278).

“Yang kita perlu sekarang, cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yg 1000 kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang selalu berdoa” (5cm, hal.326).






 

Rabu, 26 Juni 2013

Resensi Novel Supernova Episode Petir karya Dee



Elektra, Gadis (sebetulnya) Cerdas tapi Polos


Judul               : Supernova Episode: Petir
Pengarang       : DEE
Penerbit           : PT. Truadee Pustaka Sejati
Halaman          : 225 halaman
Terbit               : 2004
Cetakan           : V
Kategori          : Sains-Fiksi
Harga              : Rp 45.000,00

Dalam novel “Supernova Episode: Petir ini menceritakan tentang Elektra, gadis unik dan polos. Unik karena Elektra senang melihat petir sejak kecil, ia pernah kesetrum listrik waktu umur sembilan tahun dan selamat tanpa cedera, dan ia juga pernah lolos dari sambaran halilintar. Elektra tinggal bersama ayahnya, pemilik Wijaya Elektronik dan kakaknya, Watti. Setelah ayahnya meninggal, Elektra tinggal sendiri di rumah peninggalan ayahnya yang besar, sementara Watti harus ikut suaminya ke Tembagapura, Papua. Ia harus mengurus rumah itu sendiri, mulai dari membersihkannya, sampai mengurus keuangan Wijaya Elektronik yang punya banyak piutang tak tertagih. Ia tidak terlalu mengambil pusing atas semua itu, ia tetap menikmati hidup yang sangat sederhana dengan tidur setiap hari, ia hanya akan bangun ketika lapar. Setiap hari yang ia makan hanyalah telur karena keuangan yang  semakin menipis.
Dalam kesendiriannya di rumah itu, Elektra tiba-tiba mendapat tawaran menjadi dosen di STIGAN (Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional). ketika sedang mencari perlengkapan untuk melamar ke STIGAN, Elektra bertemu dengan ibu Sati pemilik warung yang menjual rempah-rempah dan barang-barang mistis. Namun, perkenalannya dengan Ibu Sati tidak berhenti sampai disitu saja. Ibu Sati, menemukan adanya keunikan dalam diri Elektra yang bisa dikembangkan dan diarahkan agar bisa dipergunakan dengan lebih baik. Elektra kemudian sering bertemu ibu Sati, entah hanya mampir, membantu ibu Sati di warung, curhat, sampai ia minta untuk diajari bersemedi.
Elektra bertemu teman lamanya, Beatrice, yang ternyata pemilik wartel yang ia gunakan untuk menelpon Watti. Beatrice selain memiliki usaha wartel ia juga merangkap warnet. Kemudian Elektra diajarkan cara membuat email account,. Hasilnya, Elektra kecanduan chatting. Lama-lama Elektra memutuskan untuk membuka warnet juga. Elektra bekerja sama dengan Kewoy dan Mpret dalam membuat warnet lengkap dengan sarana bermain play station dan juga tukang nasi goreng.
Pada suatu hari, secara tidak sengaja Elektra menyetrum Kewoy dan Mpret, mereka sangat terkejut. Namun kekuatan tersebut justru dimanfaatkan oleh bu Sati dan warnet itu pun mengembangkan usahanya menjadi tempat pengobatan alternatif dengan aliran listrik yang dimiliki Elektra. Elektra sempat jatuh sakit karena terlalu memforsir tenaganya. Ibu Sati lah yang membantu Elektra untuk terus mengatur kekuatannya. Belakangan, baru diketahui jika Elektra ternyata juga bisa membaca pikiran seseorang. Pertama kali hal ini disadarinya, ketika Kewoy dengan isengnya meminta rambutnya “dijigrakin”.
Mpret yang cuek bebek dan terkesan tidak suka dengan adanya praktek pengobatan alternatif Elektra, ternyata diam-diam menaruh hati pada Elektra. Kecuekannya itu dan juga ketidaksetujuan atas praktek alternatif itu tujuannya supaya Elektra tidak terlalu lelah. Elektra mengetahui perasaan Mpret tersebut. Pada pesta perayaan ulang tahun Mpret, Kewoy meminta Elektra untuk menunjukkan kebolehannya “menjigrakkan” rambut. Secara otomatis Elektra harus memegang kepala Mpret, dan tiba-tiba Elektra  jatuh pingsan. Kemudian datanglah Bong, yang ternyata adalah sepupu Mpret. Mereka bertemu kembali di Friendster. Ternyata dulu Bong dan Mpret punya hubungan yang erat dan mendalam.
Dalam novel Supernova: Episode Petir ini akhir ceritanya menggantung dan membingungkan sehingga membuat pembaca penasaran. Novel ini juga lebih dekat dengan keseharian kita, sehingga kita tidak perlu berfilosofi. Tokoh-tokohnya terasa nyata, hanya saja dikemas sedikit aneh. Tokoh Elektra, yang (sebetulnya) cerdas tetapi polos; Ibu Sati yang Baik dan bijaksana; Watti yang jahil dan sedikit modern; Kewoy yang konyol dan Mpret yang cool dan cerdas dalam berbisnis. Namun, dalam novel ini kita sedikit dibingungkan oleh berbagai teori-teori kuantum yang ada di dalamnya.
Novel Petir ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari dua buku Supernova sebelumnya. Jika pada novel Supernova terdahulu, terkesan serius, misalnya, pada Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh yang diisi dengan berbagai teori-teori sains. Dalam novel Petir, Dee menulis dengan santai, lebih merakyat dan banyak humor-humor atau kata-kata yang tidak membuat kita berpikir seperti pada halaman 166 “Bu saya tahu kenapa ibu memilih pergi ke sini. Oh ya kenapa? Kata orang, disini aktivitas spiritualnya sangat tinggi. Di gua Jepang katanya banyak yang kesurupan. “Wong edan” tukas ibu Sati. Spiritual yang saya maksud lain konotasinya, yang satu bicara tentang jiwa, spirit, yang satunya lagi genderuwo…” Sedangkan dalam novel Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh banyak kata-kata asing yang terlihat begitu sulit untuk dijelaskan sehingga diberi footnote dengan bahasa yang umum untuk memudahkan orang awam dalam membacanya. Namun tetap saja pembaca harus sabar karena novel Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh ini cukup tebal dengan footnote nya yang memakan banyak halaman dalam buku ini.
Menurut saya novel ini tidak cocok dibaca oleh anak-anak, karena anak-anak belum bisa menerima teori-teori yang belum terjangkau oleh pemikiran mereka. Novel ini lebih cocok dibaca oleh orang dewasa karena terdapat motivasi-motivasi tersendiri dalam menghadapi kenyataan hidup yang terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Jumat, 12 September 2014

TOKOH JURNALISTIK ADINEGORO

Diposting oleh Chrismeina di 07.53 0 komentar



Wartawan terkemuka dan novelis yang lahir di Talawi, kota kecil di Sumatra Barat pada tanggal 14 Agustus 1904 dan meninggal 7 Januari 1967 dalam usia 63 tahun. Adinegoro merupakan nama samaran dari Djamaludin yang bergelar Datuk Maharadja Sutan. Sejak tahun 1931 ia berturut-turut menjadi pimpinan surat kabar Panji Poestoko, Perwarta Deli dan Sumatera Shimbun sampai saat Jepang menyerah. Tahun 1945 Adinegoro diangkat menjadi pimpinan Yayasan Pers Biro Indonesia (PIA) dan tahun 1948 ikut mendirikan Mimbar Indonesia bersama Profesor Soepomo, Gusti Mansjur S.A. Terakhir tahun 1962 menjadi anggota Dewan Pengurus LKBN Antara. Ia berturut-turut menjadi pimpinan surat kabar Panji Poestoko, Perwarta Deli dan Sumatera Shimbun sampai saat Jepang menyerah. Tahun 1945 Adinegoro diangkat menjadi pimpinan Yayasan Pers Biro Indonesia (PIA) dan tahun 1948 ikut mendirikan Mimbar Indonesia bersama Profesor Soepomo, Gusti Mansjur S.A. Terakhir tahun 1962 menjadi anggota Dewan Pengurus LKBN Antara.

Sebelum memulai karier di bidang sastra ia menempuh pendidikan di sekolah kedokteran STOVIA, tetapi karena kegemarannya yang kuat untuk menulis, ia kemudian beralih ke bidang jurnalistik yang mulai dirintisnya sejak tahun 1922. Ia kemudian memperdalam ilmu jurnalistiknya di Munchenwuzaburg dari tahun 1926 hingga tahun 1930. Kemudian mempraktikkan jurnalistik di Utrecht. Sebagai penghargaan terhadap pengabdianya pada dunia pers, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengabadikan nama Adinegoro pada hadiah jurnalistik tertinggi, yang diberikan pada orang-orang yang menjadi juara lomba karya tulis yang diadakan PWI Jaya setiap tahun dengan nama Hadiah Adinegoro. Karya Adinegoro lainnya adalah Kamus Kemajuan, Melawat ke Barat, Perang Dunia I, Tiongkok Pusaran Asia, Revolusi dan Kebudayaan, Filsafat Ratu Dunia, Atlas Tanah Air, Ilmu Jiwa Seseorang.

Sumber: http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/48/Adinegoro

Jumat, 13 Desember 2013

Kutipan Novel 5cm. Karya Donny Dhirgantoro

Diposting oleh Chrismeina di 07.26 1 komentar




 Kutipan Novel 5cm. Karya Donny Dhirgantoro
MCClelland  “Manusia mempunyai tiga kebutuhan yang akan memotivasinya dalam melakukan sesuatu. Ketiga kebutuhan itu adalah Need of Achievement (N-ACH), Need of Affilition (N-AFF), Needs of  Power (N-POW). Orang-orang N-ACH adalah mereka yang mengutamakan prestasi dalam memenuhi kebutuhannya. Orang-orang N-POW adalah mereka yang senang jika mempunyai kekuasaan atas segala sesuatu, sedangkan orang-orang N-AFF adalah mereka yang merasa cukup bila sudah mempunyai banyak hubungan dengan orang lain” (5cm, hal.7-8).

Riani “Ini semua bukan tentang selera, tentang musik, tentang bola atau apapun. Itu semua kecil banget dibanding kalau kita menjadi orang yang membuat orang lain bisa bernafas lebih lega karena keberadaan kita di situ” (5cm, hal.51).

Arial “Semuanya akan indah kalo lo tetep jadi diri lo sendiri, bukan orang lain” (5cm, hal.51).

Zafran “Orang yang paling bijaksana adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu” (Socrates, 5cm, hal.159).

Arial “Kalau hati kita bersih dan melakukan hal yang baik, kita akan bahagia” (5cm, hal.162).

Zafran “Aku berpikir maka aku ada” (5cm, hal.162).

Zafran “Pencuri, perampok dan orang jahat ngerasa dalam hatinya kalo yang dia lakuin itu salah” (5cm, hal.162).

Ian “Orang yang bener-bener hidup untuk kebaikan memang hidupnya akan selalu dikenang oleh orang lain” (5cm, hal.163).

Riani “Apapun itu, cobaan, kekalahan, kegagalan, tidak akan menjadi sesuatu yang buruk. Tapi, tergantung bagaimana kita bersikap, tergantung bagaimana kita menyikapinya” (5cm, hal.265).

Genta “Kehidupan adalah 10% yang terjadi pada dirimu dan 90% sisanya adalah bagaimana kamu menghadapinya” (5cm, hal.265).

Arial “Tuhan telah memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih akan bersikap negative atau positif terhadap suatu keadaan” (5cm, hal.265).

Ian “Manusia internal adalah manusia yang beranggapan bahwa dirinyalah yang mengatur keadaan, bukan dirinya yang diatur keadaan” (5cm, hal.264).

Riani “kita harus jadi kalimat aktif selalu pakai awalan me- bukan kalimat pasif dengan awalan di-” (5cm, hal.264).

Zafran “sesuatu yang pasti didunia ini adalah ketidakpastian” (5cm, hal.270).

Zafran “Dan Tuhan memelihara ketidakpastian itu pada seluruh umat manusia agar manusia terus belajar, terus bermimpi dan ujung-ujungnya kita akan kembali pada-Nya” (5cm, hal. 270).

“Manusia yang nggak percaya sama Tuhan sama saja dengan manusia yang nggak punya mimpi. Cuma seonggok daging yang punya nama” (5cm, hal.278).

“Yang kita perlu sekarang, cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yg 1000 kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang selalu berdoa” (5cm, hal.326).






 

Rabu, 26 Juni 2013

Resensi Novel Supernova Episode Petir karya Dee

Diposting oleh Chrismeina di 05.42 1 komentar


Elektra, Gadis (sebetulnya) Cerdas tapi Polos


Judul               : Supernova Episode: Petir
Pengarang       : DEE
Penerbit           : PT. Truadee Pustaka Sejati
Halaman          : 225 halaman
Terbit               : 2004
Cetakan           : V
Kategori          : Sains-Fiksi
Harga              : Rp 45.000,00

Dalam novel “Supernova Episode: Petir ini menceritakan tentang Elektra, gadis unik dan polos. Unik karena Elektra senang melihat petir sejak kecil, ia pernah kesetrum listrik waktu umur sembilan tahun dan selamat tanpa cedera, dan ia juga pernah lolos dari sambaran halilintar. Elektra tinggal bersama ayahnya, pemilik Wijaya Elektronik dan kakaknya, Watti. Setelah ayahnya meninggal, Elektra tinggal sendiri di rumah peninggalan ayahnya yang besar, sementara Watti harus ikut suaminya ke Tembagapura, Papua. Ia harus mengurus rumah itu sendiri, mulai dari membersihkannya, sampai mengurus keuangan Wijaya Elektronik yang punya banyak piutang tak tertagih. Ia tidak terlalu mengambil pusing atas semua itu, ia tetap menikmati hidup yang sangat sederhana dengan tidur setiap hari, ia hanya akan bangun ketika lapar. Setiap hari yang ia makan hanyalah telur karena keuangan yang  semakin menipis.
Dalam kesendiriannya di rumah itu, Elektra tiba-tiba mendapat tawaran menjadi dosen di STIGAN (Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional). ketika sedang mencari perlengkapan untuk melamar ke STIGAN, Elektra bertemu dengan ibu Sati pemilik warung yang menjual rempah-rempah dan barang-barang mistis. Namun, perkenalannya dengan Ibu Sati tidak berhenti sampai disitu saja. Ibu Sati, menemukan adanya keunikan dalam diri Elektra yang bisa dikembangkan dan diarahkan agar bisa dipergunakan dengan lebih baik. Elektra kemudian sering bertemu ibu Sati, entah hanya mampir, membantu ibu Sati di warung, curhat, sampai ia minta untuk diajari bersemedi.
Elektra bertemu teman lamanya, Beatrice, yang ternyata pemilik wartel yang ia gunakan untuk menelpon Watti. Beatrice selain memiliki usaha wartel ia juga merangkap warnet. Kemudian Elektra diajarkan cara membuat email account,. Hasilnya, Elektra kecanduan chatting. Lama-lama Elektra memutuskan untuk membuka warnet juga. Elektra bekerja sama dengan Kewoy dan Mpret dalam membuat warnet lengkap dengan sarana bermain play station dan juga tukang nasi goreng.
Pada suatu hari, secara tidak sengaja Elektra menyetrum Kewoy dan Mpret, mereka sangat terkejut. Namun kekuatan tersebut justru dimanfaatkan oleh bu Sati dan warnet itu pun mengembangkan usahanya menjadi tempat pengobatan alternatif dengan aliran listrik yang dimiliki Elektra. Elektra sempat jatuh sakit karena terlalu memforsir tenaganya. Ibu Sati lah yang membantu Elektra untuk terus mengatur kekuatannya. Belakangan, baru diketahui jika Elektra ternyata juga bisa membaca pikiran seseorang. Pertama kali hal ini disadarinya, ketika Kewoy dengan isengnya meminta rambutnya “dijigrakin”.
Mpret yang cuek bebek dan terkesan tidak suka dengan adanya praktek pengobatan alternatif Elektra, ternyata diam-diam menaruh hati pada Elektra. Kecuekannya itu dan juga ketidaksetujuan atas praktek alternatif itu tujuannya supaya Elektra tidak terlalu lelah. Elektra mengetahui perasaan Mpret tersebut. Pada pesta perayaan ulang tahun Mpret, Kewoy meminta Elektra untuk menunjukkan kebolehannya “menjigrakkan” rambut. Secara otomatis Elektra harus memegang kepala Mpret, dan tiba-tiba Elektra  jatuh pingsan. Kemudian datanglah Bong, yang ternyata adalah sepupu Mpret. Mereka bertemu kembali di Friendster. Ternyata dulu Bong dan Mpret punya hubungan yang erat dan mendalam.
Dalam novel Supernova: Episode Petir ini akhir ceritanya menggantung dan membingungkan sehingga membuat pembaca penasaran. Novel ini juga lebih dekat dengan keseharian kita, sehingga kita tidak perlu berfilosofi. Tokoh-tokohnya terasa nyata, hanya saja dikemas sedikit aneh. Tokoh Elektra, yang (sebetulnya) cerdas tetapi polos; Ibu Sati yang Baik dan bijaksana; Watti yang jahil dan sedikit modern; Kewoy yang konyol dan Mpret yang cool dan cerdas dalam berbisnis. Namun, dalam novel ini kita sedikit dibingungkan oleh berbagai teori-teori kuantum yang ada di dalamnya.
Novel Petir ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari dua buku Supernova sebelumnya. Jika pada novel Supernova terdahulu, terkesan serius, misalnya, pada Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh yang diisi dengan berbagai teori-teori sains. Dalam novel Petir, Dee menulis dengan santai, lebih merakyat dan banyak humor-humor atau kata-kata yang tidak membuat kita berpikir seperti pada halaman 166 “Bu saya tahu kenapa ibu memilih pergi ke sini. Oh ya kenapa? Kata orang, disini aktivitas spiritualnya sangat tinggi. Di gua Jepang katanya banyak yang kesurupan. “Wong edan” tukas ibu Sati. Spiritual yang saya maksud lain konotasinya, yang satu bicara tentang jiwa, spirit, yang satunya lagi genderuwo…” Sedangkan dalam novel Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh banyak kata-kata asing yang terlihat begitu sulit untuk dijelaskan sehingga diberi footnote dengan bahasa yang umum untuk memudahkan orang awam dalam membacanya. Namun tetap saja pembaca harus sabar karena novel Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh ini cukup tebal dengan footnote nya yang memakan banyak halaman dalam buku ini.
Menurut saya novel ini tidak cocok dibaca oleh anak-anak, karena anak-anak belum bisa menerima teori-teori yang belum terjangkau oleh pemikiran mereka. Novel ini lebih cocok dibaca oleh orang dewasa karena terdapat motivasi-motivasi tersendiri dalam menghadapi kenyataan hidup yang terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan.